Semalam, hampir di seluruh tempat ada titik-titik kemeriahan yang sangat luar biasa. Pesta gembira menyambut pergantian tahun 2015 ke 2016. Beragam atraksi dan pentas kebolehan mengisi panggung-panggung dan ruang pesta.
Secara harfiah, tak tampak adanya perbedaan diantara hari-hari yang dipisahkan oleh tahun yang berbeda. Sama halnya lebih banyak pergantian hari bahkan detik tak menjadi perhatian untuk menilainya berbeda. Padahal sudah pula pernah singgah dalam pendengaran kita kata mutiara:
Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia beruntung.
Jika sama dengan hari kemarin, ia berada dalam kerugian.
Namun jika lebih buruk dari kemarin, sesungguh sangatlah celaka.
![]() |
| Bersama dengan para pemain sendratari dari Kidung Sudamala bersama dengan kru perkusi Cawang Segawe di malam jelang tahun baru 2016. |
Dan tentang sang waktu, Allah swt secara khusus telah mengingatkan manusia bahwa setiap manusia itu berada dalam kerugian.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3)
Hanya setiap dirilah yang dapat menjawab, apakah setiap hari telah mengukur dan menimbang kualitas hidup dan meyakini hari ini lebih baik dari hari kemarin? Apa pula telah saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran? Pun kalau pun sudah, dengan cara semacam apakah nasehat itu tersampaikan sehingga sampai pada hati dan mendorong perubahan seseorang lebih baik.
Diakui atau tidak, manusia memerlukan momentum, sebuah saat atau kesempatan yang dianggap tepat untuk melakukan sebuah hajat. Apa hajat yang sesungguhnya?
Mengevaluasi diri dan merancang rencana kehidupan yang lebih berarti.
Sebenarnya, hajat ini juga menjadi naluri manusia yang melekat pada setiap diri. Setiap manusia memiliki keinginan dan harapan menjadi diri yang lebih baik dan lebih berarti. Tapi, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang memiliki kualitas diri yang sama, meski dilahirkan dari rahim yang sama, dididik dalam kelas dan guru yang sama, bahkan beragama dan memiliki kitab yang sama.
Secara sederhana, terlihat bagaimana manusia menetapkan masa sebagai momentum evaluasi dan perubahan itu saja tak sama, bukan? Evaluasi dan rencana perubahan yang seharusnya menjadi bagian setiap hari, setiap menjelang mata terpejam dan terpulas, nyatanya, seringkali terlewatkan, terabaikan, sehingga memerlukan waktu khusus, seperti halnya titik balik waktu di tahun baru.
Ini persis dengan budaya minta maaf yang hanya dilakukan di saat lebaran saja. Sehingga abai dan lidah terasa kelu untuk mengucapkan di hari-hari biasa (selain momentum lebaran). Padahal setiap diri sangat menyadari, tak ada satu pun manusia yang sempurna, luput dari kesalahan dalam tutur kata, pikiran dan perbuatan, tapi tak menempatkan sebagai prioritas untuk meminta maaf.
![]() |
| Beberapa bulan tak bersua mas Erwin, bu Risna dan mas Andika, sudah terasa begitu lama. Sejenak obrolan ditengah kesibukan beliau. Salam silaturrahim. |
Semalam, saya bersama dengan suami menghadiri perhelatan 8 jam bersama Perkusi Cawang Segawe. Sebuah pesta kecil yang digagas kawan seniman multi talenta, Bayu Kriswantoro. Kami menyenangi hampir semua jenis seni berbasis etnisitas. Apalagi perkusi memiliki kekuatan energik dan magis yang mampu menyeret kami berada dalam kondisi otak alpha. Sebuah alasan yang sangat subyektif dan personal, sama seperti seseorang memilih menu makanan yang dapat dinikmati oleh lidah (lebih dahulu) dan perutnya.
Bagi saya, ini adalah cara Cawang Segawe mengevaluasi dirinya, kapabilitas dan kualitas berseninya, sepanjang tahun 2015, meski bukan tidak mungkin, sajian semalam kualitasnya dibawah tampilan di masa-masa sebelumnya. Misalnya saat tampil di Solo beberapa waktu lalu. Banyak faktor yang menentukan. Namun, saya melihat, betapa fantastisnya sajian semalam. Apalagi perkusi Cawang Segawe melakukan kolaborasi yang menandakan persahabatan dan sinergi itu suatu yang dapat menghasilkan karya lebih bermakna dan fantastis.
![]() |
| Berkenalan dengan bu Novi, HIMPAUDI Gondang yang juga guru di SMKN 1 Tulungagung. Diskusi literasi di tengah sajian Cawang Segawe pada momentum jelang tahun baru 2016. |
Mengapa kami memilih hadir di titik Cawang Segawe? Apa yang lain tidak menarik dan sekedar pepesan kosong?
Tidak. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ini hanya ibarat kami memilih menu yang cocok bagi lidah dan pencernakan, sebelum kemudian berpikir tentang gizi yang dapat diserap oleh tubuh, pikiran dan batin kita. Nah, bukankah sebagian besar diri juga sering lalai menetapkan gizi dari menu-menu yang disantapnya?
Momentum semalam, bagi kami bukan hanya pesta pergantian tahun, namun juga momentum penting dalam ikatan dan tali silaturrahim yang juga sering terabaikan, terlalaikan. Bersua dengan sahabat-sahabat, teman-teman baru, membincangkan hal-hal manfaat dan rencana untuk mengisi 2016 dalam situasi santai penuh cengkerama, menyatukan hati-hati yang semula terasa asing (dan bukan sebaliknya, menjauhkan hati yang sebelumnya terasa dekat), itu adalah modal sosial yang sangat penting untuk peningkatan kualitas perubahan pula.
Siapapun, bisa menetapkan momentum-momentumnya sendiri, tanpa menafikkan pilihan dan tetapan orang lain senyampang itu tak menyalahi hukum Allah swt dan RasulNya. Apalagi jika setiap diri masih belum mampu dan merasa berat untuk menetapkan bahwa setiap pergantian hari adalah momentum untuk perbaikan diri, kecuali bagi diri yang sudah super yakin, bahwa setiap perubahan harinya telah bernilai lebih dan tinggi dari hari-hari yang dilewati sebelumnya. Tentu sangat lekat di ingatan kita, dalam sebuah sistem pembelajaran pun ada momentum untuk evaluasi, dimana sejati evaluasi itu bukan hanya bagi peserta pembelajaran tapi juga bagi pemberi dan penyelenggara pembelajaran.
Yang kami inginkan tentunya, semangat evaluatif dan perubahan ini, tidak hanya sekedar bak kembang api. Ratusan ribu hingga ratusan juta gemebyar akhirnya lenyap tanpa bekas dan kesan yang panjang dan mendalam.
Selamat tahun baru 2016, semoga hidup semakin berkualitas dan bermanfaat seluas-luasnya untuk ummat. Aamiiin….
Salam literasi.
#PenaAnandaClub #Bangoan, Jum’at, 1/1/2016; 08:17






